Sabtu, 28 Januari 2012

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL REMAJA:


BAB I
PENDAHULUAN

Manusia tumbuh dan berkembang pada masa bayi ke masa dewasa melalui beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangan itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi sosial merupakan proses sosialisasi yang mendudukan anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perkembangan Hubungan Sosial.
Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial diartikan sebagai cara-cara individu bereaksi terhadap dirinya (Anna Alishahbana, dkk. : 1984). Hubungan sosial ini menyangkut juga penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti makan sendiri, berpakaian sendiri,patuh pada peraturan dll. Hubungan sosial diawali dari rumah sendiri yang kemudian berkembang dalam lingkup sosial yang lebih luas, seperti sekolah dan teman sebaya, kesulitan anak berhubungan sosial dengan teman sebaya ini biasanya disebabkan oleh pola asuh yang penuh dengan unjuk kuasa oleh orang tua. Situasi kehidupan dalam keluarga berupa pola asuh orang tua yang salah, pada umumnya masih bisa diperbaiki oleh orang tua itu sendiri, tetapi situasi pergaulan dengan teman-teman sebaya cenderung sulit di perbaiki (Sunarto : 1998). Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian, tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.

B.     Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku.
Hubungan sosial individu dimulai sejak individu berada di lingkungan rumah bersama keluarganya. Segera setelah lahir hubungan bayi dengan orang di sekitarnya, terutama ibu, memiliki arti yang sangat penting (Boweby, 1987 : 25). Kehangatan dapat dirasakan dalam hubungan ini. Pengalaman hubungan sosial yang amat mendalam adalah melalui sentuhan ibu kepada bayinya, terutama saat menyusui.
Perkembangan sosial anak semakin berkembang ketika anak mulai memasuki masa prasekolah, kira-kira umur 18 bulan. Pada umur ini dimulai dengan tumbuhnya kesadaran diri atau yang dikenal dengan kesadaran akan dirinya dan kepemilikannya. Pada umur ini, keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan semakin besar sehingga tidak jarang menimbulkan masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan. Pada masa ini sampai akhir masa sekolah ditandai dengan meluasnya lingkungan sosial. Selain dengan anggota keluarganya, pada masa ini anak mulai mendekatkan diri kepada orang-orang lain di lingkungannya. Meluasnya lingkungan sosial anak menyebabkan anak memperoleh pengaruh di luar pengawasan orang tuanya. Hubungan sosial pada masa ini anak melakukan proses emansipasi dan sekaligus individuasi. Dalam proses ini, teman-teman sebaya mempunyai peranan yang sangat besar.

C.    Perkembangan Interaksi Sosial Remaja.
Salah satu pakar teori interaksi Thibaut dan Kelley (1976) mendefinisikan interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih orang bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain. Chaplin (1979) juga mendefinisikan bahwa interaksi merupakan hubungan sosial antara beberapa individu yang mana individuindividu itu saling memengaruhi satu sama lain secara serempak. Homas (Shaw, 1985:71) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas atau sentimen yang dilakukan seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran (reward) atau hukuman (punishment) dengan menggunakan suatu aktivitas atau sentimen oleh individu  lain yang menjadi pasangannya. Sedangkan Shaw (1976:447) mendefinisikan bahwa interaksi adalah suatu pertukaran antar pribadi yang masing-masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-masing perilaku mempengaruhi satu sama lain. Jadi interaksi adalah hubungan timbal-balik antara dua orang atau lebih dan masingmasing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.

D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial.
Proses sosialisasi iindividu terjadi di tiga lingkungan utama, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
1.      Lingkungan keluarga
Ada sejumlah faktor dari dalam keluarga yang sangat dibutuhkan oleh anak dalam proses perkembangan sosialnya, yaitu kebutuhan akan rasa aman, dihargai, disayangi, diterima, dan kebebasan untuk menyatakan diri. Rasa aman meliputi perasaan aman secara material dan mental. Perasaan aman secara material berarti pemenuhan kebutuhan pakaian, makanan, dan sarana lain yang diperlukan sejauh tidak berlebihan dan tidak berada diluar kemampuan orang tua. Perasaan aman secara mental berarti pemenuhan oleh orang tua berupa perlindungan emosional, menjauhkan ketegangan, membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, dan memberikan bantuan dalam menstabilkan emosinya.
Manusia normal, baik anak maupun orang dewasa, senantiasa membutuhkan perhargaan atau dihargai oleh orang lain. Memberikan pujian kepada anak secara tepat adalah sangat baik. Cara ini akan dapat menimbulkan perasaan disayang pada diri anak yang dinyatakan secara menyenangkan oleh orang tua. Seorang anak yang merasa dirinya disayangi akan memiliki kemudahan untuk dapat menyayangi orangtua dan keluarganya, sehingga akan merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dalam keluarga. Dalam situasi demikian, anak akan merasa aman, dihargai, dan disayangi.
Harmonis – tidaknya, intensif – tidaknya interaksi antar anggota keluarga akan memengaruhi perkembangan sosial remaja yang ada didalam keluarga. Gardner (1983) dalam penelitiannya menemukan bahwa interaksi antar anggota keluarga yang tidak harmonis merupakan suatu korelat yang potensial menjadi penghambat perkembangan sosial remaja.
Iklim kehidupan keluarga, memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan hubungan sosial remaja karena sebagian besar kehidupannya ada didalam keluarga. Situasi interaksi antar anggota keluarga, perlakuan anggota keluarga terhadap remajanya, dan juga acara-acara TV dalam keluarga memiliki pengaruh kuat terhadap kondisi psikis remaja. Apalagi, perkembangan teknologi informasi melalui berbagai saluran TV yang setiap waktu dapat dinikmati remaja menghidangkan acara-acara yang bervariasi. TV dalam keluarga merupakan variable yang sangat kuat pengaruhnya terhadap perkembangan hubungan sosial remaja; termasuk timbulnya perilaku nakal.
Karena remaja juga tengah berada dalam fase krisis identitas atau ketidaktentuan, mereka amat memerlukan teladan tentang norma-norma yang mapan untuk diidentifikasi. Perwujudan norma-norma yang mantap itu tentunya menuntut orang tua sebagai pelopor norma. Dengan demikian, factor keteladanan dari sosok pribadi orang tua menjadi amat penting bagi variasi perkembangan sosial remaja pada keluarga yang bersangkutan. Kata Jay Kesler (1978) remaja sangat memerlukan keteladanan dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Pentingnya factor keteladanan dikuatkan oleh Fawzia Aswin Hadis (1991) dan Soedjipto Wirosordjono (1991) bahwa orang tua harus dapat menjadi panutan dan jangan menerapkan orientasi (Parent-oriented) orangtua serba benar, memiliki privilege, dan menekankan otoritas.
2.      Lingkungan sekolah

E.     Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja.
Remaja pada tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan remaja telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan remaja telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, remaja telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Remaja menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, remaja mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.
• Pada masa remaja , anak mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan . Pergaulan sesama teman lawan jenis dirasakan sangat penting , tetapi cukup sulit , karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesame remaja juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup .
• Kehidupan sosial remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional . Remaja sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertuutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya .
• Menurut “ Erick Erison ‘ Bahwa masa remaja terjadi masa krisis , masa pencarian jati diri . Dia berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh sosiokultural . Sedangkan menurut Freud , Kehidupan sosial remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksual .
• Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok – kelompok , baik kelompok besar maupun klelompok kecil .

F.     Perbedaan Individu dalam Perkembangan Sosial.
Bergaul dengan sesama manusia (sosialisasi) dilakukan oleh setiap orang, baik secara individual maupun berkelompok. Dilihat dari berbagai aspek, terdapat perbedaan individual manusia, yang hal itu tampak juga dalam perkembangan sosialnya.
Sesuai dengan Teori komprehensif yang dikemukakan oleh Erickson yang menyatakan bahwa manusia hidup dalam kesatuan budaya yang utuh, alam dan kehidupan masyarakat menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat, kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya maka berkembang kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam.
Remaja yang telah mulai mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola yang sesuai dengan kepribadiannya.

G.  Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan.
a) Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsang kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat.
b) Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti , bakti karya dan kelompok-kelompok belajar untuk dapat mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar